Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget



Dampak Ekstrim Pernikahan Anak

Pernikahan anak baru-baru ini sangat hangat diperbincangkan dikalangan masyarakat tak hanya di pedesaan namun juga marak di perkotaan. Pernikahan anak sangat fenomenal dengan dampak yang sangat berkelanjutan dan menjadi masalah di banyak kalangan.

Beberapa faktor utama tingginya angka pernikahan di usia anak atau pernikahan muda ini disebabkan oleh rendahnya tingkat ekonomi, dan pengaulan bebas yang diikuti dengan hamil di luar nikah.
Ada pula yang beranggapan, anak akan memiliki kehidupan yang lebih baik setelah menikah. Padahal, bila anak tersebut putus sekolah, justru akan memperpanjang rantai kemiskinan serta hak dasar anak seperti sekolah terampas.

BKKBN menentukan batas usia ideal untuk menikah pada perempuan yaitu 21 tahun dan pada laki-laki 25 tahun. Ditinjau dari aspek kesehatan, perempuan usia 21 tahun, organ reproduksinya secara psikologis sudah berkembang secara baik dan kuat serta siap melahirkan. Sedangkan dari aspek ekonomi, laki-laki umur 25 tahun sudah siap untuk menopang kehidupan keluarganya.

Kenapa Usia Minimal Pernikahan Harus Diatur?
Banyak kalangan, bahkan negara, tidak menganjurkan pernikahan anak karena sejumlah dampak yang berisiko bisa terjadi. Apalagi kalau ternyata pernikahan itu merupakan sebuah paksaan.

Batas umur nikah ternyata bertujuan untuk melindungi kesehatan calon pengantin pada usia yang masih muda.

Pernikahan anak diyakini bukan solusi, sebab, risiko dari adanya pernikahan anak bisa terjadi dan bisa menimbulkan masalah lain, diantaranya :

1. Rentannya putus sekolah
2. Kemiskinan
3. Tingginya penularan penyakit seksual
4. Rentannya perceraian
5. Rentannya KDRT
6. Rentannya keguguran
7. Rentannya kematian pada ibu muda dan bayi
8. Rentannya stunting pada bayi yang dikandung ibu muda
9. Rentan depresi, trauma, stress pada pasangan.

Dampak lainnya, perempuan berisiko mendapatkan komplikasi yang terkait dengan persalinan yang jauh lebih tinggi, seperti fistula obstetri, infeksi, pendarahan hebat, anemia dan eklampsia.

Masalah psikologis dan mental juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Dengan usia yang belum matang, akan sering terjadi percekcokan dan tidak jarang berujung pada kekerasan, baik fisik maupun verbal. (Lailina Ulfa, JW Suwar-Suwir)

Posting Komentar

0 Komentar