Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget



Terpuruk Saat Masa Remaja, Mulai Bangkit Meraih Asa

 “Buat remaja diluar sana, berpikirlah dahulu sebelum bertindak, jangan gegabah. Setiap langkah yang diambil mempunyai konsekuensi, terutama remaja perempuan. Jangan sampai menyesal,” pesan Gadis.

GPPJEMBER.COM: Gadis, bukan nama sebenarnya, tidak pernah membayangkan di usianya yang masih 17 tahun harus mengasuh anak berumur dua tahun.  Sementara teman sebayanya sedang sibuk belajar di sekolah, Gadis setiap hari berkutat dengan pekerjaan domestic rumah tangga dan merawat anak. Seperti pagi ini sewaktu ditemui , dia sedang sibuk mengejar anaknya yang berlarian aktif di teras posyandu salah satu wilayah kabupaten Jember

Gadis bercerita, sebagai anak korban keretakan rumah tangga. Dia terjerumus dalam pergaulan yang salah untuk mencari kasih sayang di luar rumah. Ketika orangtuanya bercerai, Gadis ikut ibunya, sedangkan ayahnya sudah menikah lagi. Setiap hari sang ibu harus bekerja, dan tidak ada waktu untuk mengawasi Gadis.

Kesepian dan sendirian di masa awal remaja, Gadis mencari penghiburan dan kasih sayang di lingkungan teman-temannya. Apalagi ketika ibunya memutuskan untuk menikah lagi dan suami ibunya tidak mau menerima Gadis, dia terpaksa hidup sendiri karena ibunya tinggal di rumah suami barunya.

Kemudian dia bertemu dan sering berkumpul di salah satu rumah dengan teman-teman yang rata-rata usianya 5 tahun lebih tua, tapi dirasa menerima dan bisa mengatasi kesepiannya. Tidak terpikir baha yang dilakukan olehnya adalah suatu hal yang salah. Mabuk-mabukan, menggunakan obat terlarang, dan sex bebas dirasakan sebagai bentuk kebebasan dan pelampiasan.

“Awalnya hanya ikut-ikutan minum, tapi tak lama dipaksa melakukan hubungan seksual oleh salah laki-laki yang usianya kala itu dua puluh tahun, sedangkan saya belum 15 tahun, masih kelas 3 SMP. Setelah itu saya menangis sejadi-jadinya,” ungkapnya dalam perasaan menyesal.

Dari kejadian itu sempat membuat Gadis berpikir untuk menyudahi pertemanan, tetapi pengaruh meraka sangat kuat sehingga hal tersebut tetap berlanjut. Gadis tidak pernah membayangkan bahwa perbuatannya akan berakibat dan mempunyai konsekuensi jangka panjang.

Minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan tidak ada pengawasan dan  bimbingan orangtua membuat Gadis tidak menyadari perubahan pada tubuhnya. Dia tidak paham kalau sedang hamil. Apalagi siklus menstruasinya tidak terganggu dan setiap bulan selalu haid. Gadis masih beraktivitas seperti biasa, bahkan pada saat di sekolah, dia mengikuti kegiatan ekstra kurikuler baris- berbaris yang memerlukan latihan fisik berat. Dengan tubuhnya yang berisi , tidak menyadari perutnya yang semakin membesar.

Pada akhir Juli tahun 2021, sebulan setelah diterima di SMK Negeri di Jember, Gadis diajak ibunya ke Yogyakarta untuk menengok kakak perempuannya yang melahirkan anak kedua. Hari keempat setelah tiba di sana, Gadis merasakan sakit perut yang berkepanjangan seperti sedang sakit diare.

“Perut saya mulas sekali. Ketika tiduran saking sakitnya, kok tiba-tiba keluar air seperti mengompol. Maka saya cepet-cepat ke kamar mandi karena rasa buang air tidak tertahankan” cerita Gadis.

Saat di kamar mandi, Gadis sangat syok karena yang keluar adalah bayi. Ibunya yang mendengar tangisan bayi dari dalam kamar mandi bergegas menggedor dan mendobrak pintu. Sang Ibu juga sangat kaget mendapati anak gadisnya yang masih remaja tiba-tiba melahirkan. Dengan gelap mata, dia menempeleng anaknya yang sedang linglung karena syok hebat. Gadis pingsan di kamar mandi dalam kondisi masih berdarah dan plasenta masih menempel.

Setelah kondisi tenang dan mendapat perawatan medis untuk Gadis dan bayinya, dia bercerita kepada ibunya siapa yang bertanggungjawab atas kehamilannya. Atas desakan keluarga, laki-laki tersebut bersedia untuk mengawini Gadis secara siri karena masih dibawah umur.

Tetapi masalah tidak selesai sampai disini. Justru ini perkawinan ini adalah babak baru dari penderitaan Gadis. Di tempat tinggal yang baru yaitu rumah mertua, Gadis mendapat kekerasan berupa penelantaran dan kekerasan psikis dari suami dan keluarganya. Tidak hanya kurang makan, tapi juga harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Padahal dia baru melahirkan dan harus merawat bayinya. Tekanan psikologis dan kelelahan membuat ASI tidak keluar. Semakin menderitalah bayinya karena tidak mendapat asupan gizi yang cukup.

Karena sudah tidak tahan hidup menderita, Gadis meminta cerai dari suami dan pulang kerumah ibunya yang kala itu juga sudah bercerai dari suaminya. Berdua mereka bekerja bersama untuk merawat bayi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dibulan Nopember 2022, Gadis menikah lagi dengan laki-laki yang berusia 5 tahun lebih tua darinya. Lagi-lagi kawin siri karena Gadis baru berusia 16 tahun. Tak lama kemudian, Gadis hamil lagi. Pada kehamilan ini, Gadis lebih paham akan perubahan tubuhnya dan rutin memeriksakan diri ke bidan. Tapi malang, kehamilannya bermasalah dan harus melahirkan secara premature di usia 6 bulan. Bayinya meninggal setelah sehari dilahirkan di rumah sakit.

Kejadian demi kejadian yang menimpa membuat Gadis terkadang merasa putus asa. Tapi dengan dorongan dari suami dan mengingat masa depan anaknya, dia berusaha untuk tetap semangat menjalani hidup.

“Saya selalu ingin menjadi chef, makanya dulu sempat memilih sekolah di jurusan tata boga. Sekarang saya belajar memasak dari Youube. Hasilnya dijual untuk kebutuhan sehari-hari, Saat ini saya jualan lumpia, seblak dan menerima pesanan kue. Rencana kalau modalnya sudah cukup akan membuka warung di rumah. Peluang itu yang memungkinkan karena saya dan suami sama-sama hanya mempunyai ijazah SMP, jadi susah mencari kerja,” Ujar Gadis.

Sewaktu ditanya kenapa Gadis mau menceritakan kisahnya, dia menuturkan supaya kisah hidupnya bisa menjadi bahan pemikiran dan pembelajaran bagi remaja yang lain agar tidak bernasib sama sepertinya. “Buat remaja diluar sana, berpikirlah dahulu sebelum bertindak, jangan gegabah. Setiap langkah yang diambil mempunyai konsekuensi, terutama remaja perempuan. Jangan sampai menyesal,” demikian pesan Gadis.

Ah, Gadis……walau pada mulanya putus asa

Karena menjalani dari rasa terpaksa

Tapi dengan gigih dan semangat luar biasa

Tertatih berjuang  meraih asa

Ayo Gadis, semangat, kamu pasti bisa

(Mariana, Jember)

Posting Komentar

0 Komentar